ASFIKSIA NEONATORUM
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir.
Asfiksia neonatorum ialah keadaan di mana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur serelah lahir.
Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamila, persalinan, atau segera setelah lahir.
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis. BIla prosesw ini berlangsung trlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital.
Pada bayi yang mengalami kekurangan oksigen akan terjadi pernafaesaen yang cepat dalam periode yang singkat . Apabila afsiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga akana mulai menurun, sedangkan tonus neuromuscular berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apnu yang di kenal sebagai apnu primer.
Apabila asfiksia berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan megap-megap yang dalam, denyut jantung terus menurun, tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terlihat lemas (flaccid). Pernafasan makin lam makin lemah sampai bayi memasuki periode apnu yang disebut apnu sekunder. Selam apnu sekunder ini, denyut jantung, tekanan darah dan kadar oksigen di dalam darah(paO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secar spontan. Kematian akan terjadi kecuali apabila resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian oksigen di mulai dengan segera.
Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yag akan di kerjakan pada bayi bertujuan mempertahan kelansungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul.
2. Etiologi
Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu ke janin serhinnga terjadi gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang di derita dalam persalinan.
Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi buruk, penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung, dan lain-lain. Pada keadaan terakhir ini pengaruh terhadap janin disebabkan oleh gangguan oksigenasi serta kekurangan pemberian zat-zat makanan berhubungan dengan gangguan fungsi plasenta.
Factor-faktor yang timbul dalam persalinan lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi. Keadaan ini perlu di kenal, agar perlu di lekukan persiapan yang sempurna pada saat bayi lahir. Fakto-faktor yang mendadak ini terdiri atas:
a)Factor-faktor dari pihak janin:
1)Gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
2)Depresi pernafasan karena obat-obat anestesia/analgetika yang di berikan kepada ibu, perdarahan intrakranial, dan kelainan bawaaan (hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan, hipoplasia paru-pari,dan lain-lain)
b)Faktor-faktor dari pihak ibu:
1)Gangguan his, misalnya hipertoni dan tetani
2)Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan misalnya pada plasenta previa
3)Hipertensi pada eklamsia
4)Gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta.
3.Gambaran klinis atau tanda gejala
1.pernafasan (Apnu / megap-megap)
2.Detak jantung kurang
3.Refleks / respons bayi lemah
4.Tonus otot menurun
5.Warna kulit biru / pucat
Asfiksia neonaturum dapat di bagi dalam:
1.’Vigorous Baby’. Skor Apgar 7-10.
Dalam hal ini bayi di anggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa
2. ‘Mild-Moderate Asphyxia’ (asfiksia sedang)
Skor apgar 4-6.pada pemeriksaan fisis akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
3)a)Asfiksia berat, skor apgar 0-3.pada pemeriksaan fisis ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
b)Asfiksia berat dengan henti jantung. Dimaksudkan dengan henti jantung ialah keadaan 1)bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap,2)bunyi jantung bayi menghilang post partum. Dalam hal ini pemeriksaan fisis lainnya sesuai dengan yang di temukan pada penderita asfiksia berat.
4.Komplikasi
Meliputi berbagai organ yaitu :
1. otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis
2. jantung dan paru : hipertensi pulmonal persisten pada neonatus, perdarahan paru, edema paru
3. gastrointestinal : enterokolitis nekrotikans
4. ginjal : tubular nekrosis akut
5.Penatalaksanaan
Tujuan utama mengatasi asfiksia adalah mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa (sekuele) yang mungkin timbul di kemudian hari. Tindaka yang dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi bayi baru lahir.
Sebelum resusitasi dikerjakan, perlu diperhatikan bahwa:
1.Factor waktu sangat penting. Makin lam bayi menderita asfiksia, perubahan hemostasis yang timbul makin berat, resusitasi akan lebih sulit dan kemungkinan timbulnya sekuele akan meningkat.
2.Kerusakan yang timbul pada bayi akibat anoksia atau hipoksia antenatal tidak dapat diperbaiki, tetapi kerusakan yang akan terjadi karena anoksia/hipoksai pascanatal harus dicegah dan diatasi.
3.Riwayat kehamilan dan parrtus akan memberikan keteranagn yang jelas tentang factor penyebab terjadinya depresi pernafasan pada bayi baru lahir.
4.Penilaian bayi baru lahir perlu dikenal baik agar resusitasi yang dilekukan dapat dipilih dan ditentukan secara adekuat.
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi.
A- memastikan saluran nafas terbuka.
B- memulai pernafasan .
C- mempertahankan sirkulasi (peredaran) darah.
Bagian- bagian dari tatalaksananan resusitasi yang dikaitkan ABC resusitasi dapat adalah:
A- Memastikan saluran nafas terbuka
a) Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi: bahu di ganjal
b) Menghisap mulut, hidung dan kadang-kadang trakhea
c) Bila perlu masukkan pipa endotrakeal (pipa ET) untuk memastikan saluran nafas terbuka
B- Memulai pernafasan
a) Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernafasan.
b) Memakai VTP (Ventilasi dengan tekanan positif), bila perlu seperti:
Sungkup dan balon, atau
Pipa ET dan balon,
Mulut ke mulut ( hindari paparan infeksi)
C- Mempertahankan sirkulasi darah
a) rangsangan dan mempertahankan sirkulasi darah dengan cara :
Kompresi dada
Pengobatan
DAFTAR PUSTAKA
Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawihardjo. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.2007. Jakarta: Trisada Printer.
Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawihardjo . Ilmu Kebidanan. 2007. Jakarta :Trisada Printer.
Staff Pengajar Ilmu kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Jakarta: Infomedika.
Senin, 09 November 2009
PERUBAHAN FISIOLOGIS pada MASA NIFAS
A.PERUBAHAN SISTEM REPRODUKSI
1. UTERUS
Setelah melahirkan uterus akan kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram yang disebut involusi. Proses ini dimulai segera plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Proses Involusi Uteri :
1. Autolysis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga sepuluh kali panjangnya dari semula selama kehamilan. Sitoplasma sel yang berlebih akan tercerna sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastic dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
2. Atrofi jaringan
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot-otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru.
3. Efek Oksitoksin (kontraksi)
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap perubahan volume intra uterin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi otot uterus, mengompresi pembuluh darah dan membantu proses hemostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterin akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Luka bekas perlekatan plasenta memerlikan waktu 8 minggu untuk sembuh total. Selama 1 sampai 2 jam pertama post partum intensitas kontraksi uterus bias berkurang dan menjadi teratur. Karena itu penting sekali menjaga dan mempertahankan kontraksi uterus pada masa ini. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir akan merangsang pelepasan oksitosin karena hisapan bayi pada payudara.
Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa fundus uteri dengan cara :
1) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1cm diatas pusat dan menurun kira-kira 1cm setiap hari.
2) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1cm di bawah pusat. Pada hari ketiga sampai empat tinggi fundus uteri 2cm di bawah pusat. Pada hari kelima sampai tujuh tinggi fundus uteri setengah pusat simphisis. Pada hari kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba.
Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam proses involusi disebut dengan subinvolusi. Subinvolusi dapat disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta / perdarahan lanjut (post partum haemorhage)
2.PERUBAHAN VAGINA DAN PERINEUM
a) Vagina
Pada minggu ke tiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan atau kerutan ) kembali.
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering di jumpai. Mungkin di temukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus di putar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan speculum.
b) Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalianan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukurang yang lebih besar dari pada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Bila ada lacerasi jalan lahir atau bekas episotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) lakukanlah penjahitan dengan baik.
B.PERUBAHAN SISTEM PENCERNAAN
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemorroid, leaserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali tratur dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau gliserin spuit atau diberikan obat laksan yang lain.
Sistem pencernaan pada masa nifas
a. Nafsu Makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan. Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
kerapkali untuk pemulihan nafsu makan, diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema.
b.Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal
c.Pengosongan Usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomi, laserasi atau hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal.
Kebiasaan mengosongkan usus secara regular perlu dilatih kembali untuk merangsang pengosongan usus.
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi. Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Suppositoria dibutuhkan untuk membantu eliminasi pada ibu nifas. Akan tetapi proses konstipasi juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila ibu buang air besar
C.PERUBAHAN SISTEM PRKEMIHAN
Kadang-kadang puerperium mengalami sulit buang air kecil, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya oedema dari trigonium menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga sering terjadi retensia urin.
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung pada :
1. Keadaan atau status sebelum persalinan
2. Lamanya partus kala 2 dilalui
3. Besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistocopic segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan hyperemia dinding vesika urinaria, akan tetapi sering terjadi extravasasi (keluarnya arah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam badan) ke mukosa.
Lagi pula vesika urinaria masa nifas mempunyai kapasitas bertambah besar dan relatif tidak sensitive terhadap tekanan cairan intra vesika. Oleh sebab itu, pengembangannya yang berlebihan, terutama karena analgesia dan gangguan fungsi neural, sementra pada vesika urinaria memang merupakan faktor-faktor penunjang.
Adanya urin residual dan bakteriuria pada vesika urinaria yang mengalami ccedera, dengan ditambah dilatasi pelvis renalis dan ureter, membentuk kondisi yang optimal untuk tumbuhnya infeksi saluran kencing. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami dilatasi kembali ke keadaan sebelum hamil mulai dari 2-8 minngu setelah persalinan. Pengaruh persalinan pada fungsi vesika urinaria postpatum, yang dipeljari menggunakan teknik urodinamik, dapat diketahui bahwa bila peersalinan lama dapat dihindari, dan bila dilakukan kateterisasi secepatnya dikerjakan, pada vesika urinaria, meskipun dilaporkan pula dari hasil mempelajari dengan cara tersebut diatas, bahwa analgesia epidural tiak merupakan predisposisi hipotonia vesika urinaria postpartum.
Ada kalanya edema dari trigonum menimbulkan obstruksi pada uretra sehingga terjadi retensio urin. Vesika urinaria dalam puerporium kurang sensitif dan kapasitasnya brtambah, sehingga vesika urinaria penuh atau seesuah kencing masih ada sisa urin residu.
Tanda-tanda kondisi fisiologis dari proteinuria :
1. Distensi (peregangan) berlebih pada vesika urinaria adalah hal yang umum terjadi karena peningkatan kapassaitas VU, pembengkakan memar jaringan diseekitar uretra dan hilangnya sensasi terhadap tekanan yang meninggi.
a. VU yang penuh menggeser uterus dan dapat menyebabkan perdarahan postpartum, distensi vesika urinaria dapat disebabkan oleh retensi urin.
b. Pengosongan vu yang adekuat umumnya kembali dalam 5-7 hari setelah terjadi pemulihan jaringan yang bengkak dan memar.
2. Laju filtrasi glmerolus tetap meninggi selama kurang lebih 7 hari postpartum.
3. Ureter yang berdilatasi dan pelvis renal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 6-10 minggu setelah melahirkan.
4. Diaforesis puerperalis (pembentukan keringat ibu nifas) dan diuresis (peningkatan pembentukan kemih) terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan.
D.PERUBAHAN SISTEM MUSKULOSKELETAL atau DIATESIS RECTIE ABDOMINIS
1.Diatesis
Setiap wanita nifas memiliki derajat diatesis atau konstitusi (yakni kedaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh beraksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-penyakit tertentu). Sebagian besar wanita melakukan ambulasi (bisa berjalan)4-8 jam postpartum. Motilisasi (gerakan) dan tonus otot gastro intestinal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan. Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal karena penurunan tonus otot usus, rassa tidak nyaman pada perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama persalinan.
2.Abdominis dan Peritonium
Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritonium yang membungkus sebagian besar dari uterus, membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat lebih kendor dari kondisi sebelum hamil. Memerlukan waktu cukup lama agar dapat kembali normal seperti semula. Dinding abdomen tetap kendar untuk sementara waktu. Hal ini di sebabkan karena sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus salama hamil. Pemulihannya dapat di bantu dengan cara berlatih.
A.PERUBAHAN SISTEM REPRODUKSI
1. UTERUS
Setelah melahirkan uterus akan kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram yang disebut involusi. Proses ini dimulai segera plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Proses Involusi Uteri :
1. Autolysis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga sepuluh kali panjangnya dari semula selama kehamilan. Sitoplasma sel yang berlebih akan tercerna sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastic dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
2. Atrofi jaringan
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot-otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru.
3. Efek Oksitoksin (kontraksi)
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap perubahan volume intra uterin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi otot uterus, mengompresi pembuluh darah dan membantu proses hemostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterin akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Luka bekas perlekatan plasenta memerlikan waktu 8 minggu untuk sembuh total. Selama 1 sampai 2 jam pertama post partum intensitas kontraksi uterus bias berkurang dan menjadi teratur. Karena itu penting sekali menjaga dan mempertahankan kontraksi uterus pada masa ini. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir akan merangsang pelepasan oksitosin karena hisapan bayi pada payudara.
Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa fundus uteri dengan cara :
1) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1cm diatas pusat dan menurun kira-kira 1cm setiap hari.
2) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1cm di bawah pusat. Pada hari ketiga sampai empat tinggi fundus uteri 2cm di bawah pusat. Pada hari kelima sampai tujuh tinggi fundus uteri setengah pusat simphisis. Pada hari kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba.
Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam proses involusi disebut dengan subinvolusi. Subinvolusi dapat disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta / perdarahan lanjut (post partum haemorhage)
2.PERUBAHAN VAGINA DAN PERINEUM
a) Vagina
Pada minggu ke tiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan atau kerutan ) kembali.
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering di jumpai. Mungkin di temukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus di putar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan speculum.
b) Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalianan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukurang yang lebih besar dari pada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Bila ada lacerasi jalan lahir atau bekas episotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) lakukanlah penjahitan dengan baik.
B.PERUBAHAN SISTEM PENCERNAAN
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemorroid, leaserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali tratur dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau gliserin spuit atau diberikan obat laksan yang lain.
Sistem pencernaan pada masa nifas
a. Nafsu Makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan. Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
kerapkali untuk pemulihan nafsu makan, diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema.
b.Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal
c.Pengosongan Usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomi, laserasi atau hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal.
Kebiasaan mengosongkan usus secara regular perlu dilatih kembali untuk merangsang pengosongan usus.
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi. Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Suppositoria dibutuhkan untuk membantu eliminasi pada ibu nifas. Akan tetapi proses konstipasi juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila ibu buang air besar
C.PERUBAHAN SISTEM PRKEMIHAN
Kadang-kadang puerperium mengalami sulit buang air kecil, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya oedema dari trigonium menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga sering terjadi retensia urin.
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung pada :
1. Keadaan atau status sebelum persalinan
2. Lamanya partus kala 2 dilalui
3. Besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistocopic segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan hyperemia dinding vesika urinaria, akan tetapi sering terjadi extravasasi (keluarnya arah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam badan) ke mukosa.
Lagi pula vesika urinaria masa nifas mempunyai kapasitas bertambah besar dan relatif tidak sensitive terhadap tekanan cairan intra vesika. Oleh sebab itu, pengembangannya yang berlebihan, terutama karena analgesia dan gangguan fungsi neural, sementra pada vesika urinaria memang merupakan faktor-faktor penunjang.
Adanya urin residual dan bakteriuria pada vesika urinaria yang mengalami ccedera, dengan ditambah dilatasi pelvis renalis dan ureter, membentuk kondisi yang optimal untuk tumbuhnya infeksi saluran kencing. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami dilatasi kembali ke keadaan sebelum hamil mulai dari 2-8 minngu setelah persalinan. Pengaruh persalinan pada fungsi vesika urinaria postpatum, yang dipeljari menggunakan teknik urodinamik, dapat diketahui bahwa bila peersalinan lama dapat dihindari, dan bila dilakukan kateterisasi secepatnya dikerjakan, pada vesika urinaria, meskipun dilaporkan pula dari hasil mempelajari dengan cara tersebut diatas, bahwa analgesia epidural tiak merupakan predisposisi hipotonia vesika urinaria postpartum.
Ada kalanya edema dari trigonum menimbulkan obstruksi pada uretra sehingga terjadi retensio urin. Vesika urinaria dalam puerporium kurang sensitif dan kapasitasnya brtambah, sehingga vesika urinaria penuh atau seesuah kencing masih ada sisa urin residu.
Tanda-tanda kondisi fisiologis dari proteinuria :
1. Distensi (peregangan) berlebih pada vesika urinaria adalah hal yang umum terjadi karena peningkatan kapassaitas VU, pembengkakan memar jaringan diseekitar uretra dan hilangnya sensasi terhadap tekanan yang meninggi.
a. VU yang penuh menggeser uterus dan dapat menyebabkan perdarahan postpartum, distensi vesika urinaria dapat disebabkan oleh retensi urin.
b. Pengosongan vu yang adekuat umumnya kembali dalam 5-7 hari setelah terjadi pemulihan jaringan yang bengkak dan memar.
2. Laju filtrasi glmerolus tetap meninggi selama kurang lebih 7 hari postpartum.
3. Ureter yang berdilatasi dan pelvis renal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 6-10 minggu setelah melahirkan.
4. Diaforesis puerperalis (pembentukan keringat ibu nifas) dan diuresis (peningkatan pembentukan kemih) terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan.
D.PERUBAHAN SISTEM MUSKULOSKELETAL atau DIATESIS RECTIE ABDOMINIS
1.Diatesis
Setiap wanita nifas memiliki derajat diatesis atau konstitusi (yakni kedaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh beraksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-penyakit tertentu). Sebagian besar wanita melakukan ambulasi (bisa berjalan)4-8 jam postpartum. Motilisasi (gerakan) dan tonus otot gastro intestinal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan. Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal karena penurunan tonus otot usus, rassa tidak nyaman pada perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama persalinan.
2.Abdominis dan Peritonium
Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritonium yang membungkus sebagian besar dari uterus, membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat lebih kendor dari kondisi sebelum hamil. Memerlukan waktu cukup lama agar dapat kembali normal seperti semula. Dinding abdomen tetap kendar untuk sementara waktu. Hal ini di sebabkan karena sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus salama hamil. Pemulihannya dapat di bantu dengan cara berlatih.
Langganan:
Postingan (Atom)
