Senin, 09 November 2009

PERUBAHAN FISIOLOGIS pada MASA NIFAS

A.PERUBAHAN SISTEM REPRODUKSI

1. UTERUS
Setelah melahirkan uterus akan kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram yang disebut involusi. Proses ini dimulai segera plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Proses Involusi Uteri :
1. Autolysis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga sepuluh kali panjangnya dari semula selama kehamilan. Sitoplasma sel yang berlebih akan tercerna sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastic dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
2. Atrofi jaringan
Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot-otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru.
3. Efek Oksitoksin (kontraksi)
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap perubahan volume intra uterin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi otot uterus, mengompresi pembuluh darah dan membantu proses hemostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterin akan mengurangi suplai darah ke uterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Luka bekas perlekatan plasenta memerlikan waktu 8 minggu untuk sembuh total. Selama 1 sampai 2 jam pertama post partum intensitas kontraksi uterus bias berkurang dan menjadi teratur. Karena itu penting sekali menjaga dan mempertahankan kontraksi uterus pada masa ini. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir akan merangsang pelepasan oksitosin karena hisapan bayi pada payudara.

Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa fundus uteri dengan cara :
1) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2cm dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1cm diatas pusat dan menurun kira-kira 1cm setiap hari.
2) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1cm di bawah pusat. Pada hari ketiga sampai empat tinggi fundus uteri 2cm di bawah pusat. Pada hari kelima sampai tujuh tinggi fundus uteri setengah pusat simphisis. Pada hari kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba.
Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam proses involusi disebut dengan subinvolusi. Subinvolusi dapat disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta / perdarahan lanjut (post partum haemorhage)

2.PERUBAHAN VAGINA DAN PERINEUM
a) Vagina
Pada minggu ke tiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan atau kerutan ) kembali.
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering di jumpai. Mungkin di temukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus di putar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan speculum.
b) Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalianan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukurang yang lebih besar dari pada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Bila ada lacerasi jalan lahir atau bekas episotomi (penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah kelahiran bayi) lakukanlah penjahitan dengan baik.

B.PERUBAHAN SISTEM PENCERNAAN
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemorroid, leaserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali tratur dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau gliserin spuit atau diberikan obat laksan yang lain.
Sistem pencernaan pada masa nifas
a. Nafsu Makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan. Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
kerapkali untuk pemulihan nafsu makan, diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema.
b.Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal
c.Pengosongan Usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomi, laserasi atau hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal.
Kebiasaan mengosongkan usus secara regular perlu dilatih kembali untuk merangsang pengosongan usus.
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi. Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Suppositoria dibutuhkan untuk membantu eliminasi pada ibu nifas. Akan tetapi proses konstipasi juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila ibu buang air besar


C.PERUBAHAN SISTEM PRKEMIHAN
Kadang-kadang puerperium mengalami sulit buang air kecil, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya oedema dari trigonium menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga sering terjadi retensia urin.
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung pada :
1. Keadaan atau status sebelum persalinan
2. Lamanya partus kala 2 dilalui
3. Besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistocopic segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya edema dan hyperemia dinding vesika urinaria, akan tetapi sering terjadi extravasasi (keluarnya arah dari pembuluh-pembuluh darah di dalam badan) ke mukosa.
Lagi pula vesika urinaria masa nifas mempunyai kapasitas bertambah besar dan relatif tidak sensitive terhadap tekanan cairan intra vesika. Oleh sebab itu, pengembangannya yang berlebihan, terutama karena analgesia dan gangguan fungsi neural, sementra pada vesika urinaria memang merupakan faktor-faktor penunjang.
Adanya urin residual dan bakteriuria pada vesika urinaria yang mengalami ccedera, dengan ditambah dilatasi pelvis renalis dan ureter, membentuk kondisi yang optimal untuk tumbuhnya infeksi saluran kencing. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami dilatasi kembali ke keadaan sebelum hamil mulai dari 2-8 minngu setelah persalinan. Pengaruh persalinan pada fungsi vesika urinaria postpatum, yang dipeljari menggunakan teknik urodinamik, dapat diketahui bahwa bila peersalinan lama dapat dihindari, dan bila dilakukan kateterisasi secepatnya dikerjakan, pada vesika urinaria, meskipun dilaporkan pula dari hasil mempelajari dengan cara tersebut diatas, bahwa analgesia epidural tiak merupakan predisposisi hipotonia vesika urinaria postpartum.
Ada kalanya edema dari trigonum menimbulkan obstruksi pada uretra sehingga terjadi retensio urin. Vesika urinaria dalam puerporium kurang sensitif dan kapasitasnya brtambah, sehingga vesika urinaria penuh atau seesuah kencing masih ada sisa urin residu.

Tanda-tanda kondisi fisiologis dari proteinuria :
1. Distensi (peregangan) berlebih pada vesika urinaria adalah hal yang umum terjadi karena peningkatan kapassaitas VU, pembengkakan memar jaringan diseekitar uretra dan hilangnya sensasi terhadap tekanan yang meninggi.
a. VU yang penuh menggeser uterus dan dapat menyebabkan perdarahan postpartum, distensi vesika urinaria dapat disebabkan oleh retensi urin.
b. Pengosongan vu yang adekuat umumnya kembali dalam 5-7 hari setelah terjadi pemulihan jaringan yang bengkak dan memar.

2. Laju filtrasi glmerolus tetap meninggi selama kurang lebih 7 hari postpartum.
3. Ureter yang berdilatasi dan pelvis renal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 6-10 minggu setelah melahirkan.
4. Diaforesis puerperalis (pembentukan keringat ibu nifas) dan diuresis (peningkatan pembentukan kemih) terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan.

D.PERUBAHAN SISTEM MUSKULOSKELETAL atau DIATESIS RECTIE ABDOMINIS

1.Diatesis
Setiap wanita nifas memiliki derajat diatesis atau konstitusi (yakni kedaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh beraksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-penyakit tertentu). Sebagian besar wanita melakukan ambulasi (bisa berjalan)4-8 jam postpartum. Motilisasi (gerakan) dan tonus otot gastro intestinal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan. Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal karena penurunan tonus otot usus, rassa tidak nyaman pada perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama persalinan.

2.Abdominis dan Peritonium
Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritonium yang membungkus sebagian besar dari uterus, membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat lebih kendor dari kondisi sebelum hamil. Memerlukan waktu cukup lama agar dapat kembali normal seperti semula. Dinding abdomen tetap kendar untuk sementara waktu. Hal ini di sebabkan karena sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus salama hamil. Pemulihannya dapat di bantu dengan cara berlatih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar